Aphelion, Fenomena Bumi dan Matahari Yang Saling Menjaga Jarak

- Rabu, 7 Juli 2021 | 10:05 WIB
Aphelion, Fenomena Bumi dan Matahari Yang Saling Menjaga Jarak
Aphelion, Fenomena Bumi dan Matahari Yang Saling Menjaga Jarak

AyoCirebon.com - Aphelion adalah sebutan yang merujuk pada peristiwa ketika bumi berada pada lintasan terjauhnya dari matahari. Sudah menjadi rahasia umum kalau bumi mengorbit matahari tidak pada lintasan yang berbentuk bulat sempurna. Lebih tepatnya, lintasan ini berbentuk elips dengan tingkat kelonjongan mencapai 1/60. Jika ada titik terjauh, tentu ada titik terdekat. Itulah yang dinamakan perihelion, yaitu momentum bumi berada pada lintasan terdekatnya dengan matahari. 

Fenomena aphelion dan perihelion ini adalah peristiwa yang normal terjadi, bahkan selalu ada setiap tahunnya. Perbedaan Aphelion dan Preihelion adalah pada waktu dan kejadian. Aphelion sering terjadi di pertengahan tahun seperti bulan Juni atau Juli dimana bumi dengan matahari pada jarak terjauhnya. Sementara Perihelion terjadi di bulan Januari dimana bumi dan matahari sedang dalam jarang paling dekat.

AYO BACA : Dampak Buruk Bagi Anak Yang Sering Bermain Gadget

Untuk tahun ini, aphelion sudah terjadi pada kemarin pagi, Selasa (07/07/2021) pada pukul 05:27 wib. Sayangnya, fenomena aphelion dan perihelion ini bukanlah fenomena kenampakan objek langit sehingga tidak bisa dilihat secara langsung. Lagipula, menatap matahari untuk waktu yang lama tidak dianjurkan karena dapat merusak mata.

Dampak Aphelion Bagi Kehidupan Di Bumi

Dikutip dari space.com, jarak bumi dengan matahari ketika terjadi aphelion dapat mencapai 5 juta km lebih jauh dari pada saat terjadi perihelion.
Lalu, apakah hal ini berdampak pada suhu dingin yang kita rasakan akhir-akhir ini ? Ternyata tidak. Meski jarak bumi kepada matahari ada di titik terjauh, namun fenomena ini tidak memberi dampak langsung yang dapat manusia rasakan.

AYO BACA : Olahraga Ringan Untuk Kamu Yang Sedang Isolasi Mandiri di Rumah

Suhu dingin yang akhir-akhir ini selalu terasa di pagi diketahui merupakan salah satu akibat yang normal terjadi ketika musim kemarau tiba. Ketika siang hari, permukaan bumi akan menyerap cahaya matahari lebih banyak dibanding malam hari. Sebaliknya ketika malam hari, panas yang sudah dikumpulkan itu akan dikembalikan ke atmosfer.

Namun ketika musim kemarau tiba, tidak banyak awan yang ada di atmosfer sehingga panas yang dilepaskan tidak dapat dipantulkan kembali ke bumi. Hal ini jugalah yang menyebabkan biasanya kita dapat melihat langit yang lebih jernih pada musim kemarau. Suhu dingin ini juga semakin terasa karena posisi matahari yang saat ini tengah berada di belahan bumi bagian utara. Sedikit banyak, hal ini akan menyebabkan perbedaan tekanan udara di belahan bumi bagian selatan menjadi lebih tinggi.

Sifat alami dari udara adalah berhembus ke tempat dengan tekanan yang lebih rendah, karena itu angin lalu berhembus dari selatan ke utara. Pada saat yang sama, benua australia yang berada di sebelah selatan indonesia sedang mengalami musim dingin. Karena itu, angin yang bertiup pun memiliki suhu yang dingin. Hal ini dirasakan terutama oleh penduduk di pulau-pulau bagian selatan indonesia seperti pulau jawa, bali, nusa tenggara maupun negara-negara yang berada di selatan garis khatulistiwa

Halaman:

Editor: Handy Dannu Wijaya

Tags

Terkini

Amankah Bayi Minum ASI dari Ibu Penderita Covid 19?

Jumat, 24 September 2021 | 16:36 WIB

Mimpi Selingkuh? Simak Alasan dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 18 September 2021 | 16:46 WIB

Adab Membawa Al Quran Digital pada Ponsel ke Kamar Mandi

Jumat, 17 September 2021 | 15:38 WIB

Rekomendasi Game Terbaru 2021 yang Wajib Coba!

Kamis, 26 Agustus 2021 | 15:52 WIB

Ini Kelebihan Jaringan 5G, Gamer Wajib Baca!

Kamis, 26 Agustus 2021 | 09:18 WIB

Kiat Merawat Wajah Alami di Rumah, Murah dan Praktis!

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 13:49 WIB
X