Ancaman Mutasi Covid-19 India dan Penanganan Mudik Lebaran 2021

- Selasa, 27 April 2021 | 21:30 WIB
Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu penumpang di stasiun kereta Bandra di Mumbai, India, Rabu, 17 Februari 2021. Pejabat kesehatan telah mendeteksi lonjakan kasus COVID-19 di beberapa kantong negara bagian Maharashtra, termasuk di Mumbai, negara tersebut. modal finansial. (AP/Republika)
Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu penumpang di stasiun kereta Bandra di Mumbai, India, Rabu, 17 Februari 2021. Pejabat kesehatan telah mendeteksi lonjakan kasus COVID-19 di beberapa kantong negara bagian Maharashtra, termasuk di Mumbai, negara tersebut. modal finansial. (AP/Republika)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia cenderung terkendali. Namun negara pun dihadapkan dengan tantangan ke depannya, seperti mudik lebaran 2021, dan ancaman mutasi Covid-19 dari India.

“Yaitu seiring dengan masuknya kita ke dalam periode bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang sangat terkait dengan tradisi mudik atau bepergian yang berpotensi meningkatkan penularan antardaerah,” jelas Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, mengutip Republika, Selasa, 27 April 2021.

Karena itu, pemerintah memutuskan kebijakan pembatasan mobilitas nasional dan internasional yang akan masuk ke Indonesia guna mencegah kasus impor antarnegara maupun antardaerah. “Inilah saatnya masyarakat saling bahu membahu untuk memberikan sumbangsihnya, untuk mempertahankan kondisi kasus yang cenderung stabil, bahkan terus menekan angka kasus aktif dan kematian,” ujar dia.

Berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Perhubungan, diperkirakan larangan mudik tidak akan menghalangi sekitar tujuh persen masyarakat atau sekitar 17 juta jiwa pulang kampung. Sebenarnya, angka tersebut sudah lebih rendah dibanding dibanding jumlah warga yang diprediksi masih nekat mudik setelah adanya larangan mudik pada awal-awal pengumuman kebijakan, yakni sekitar 11 juta atau 27,5 juta orang. Namun tetap saja, hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya potensi arus mudik yang masih cukup besar.

Pemerintah tetap akan melanjutkan kebijakan pengetatan mobilitas dan peningkatan pengawasan demi menekan pergerakan manusia selama Ramadhan dan terlebih menjelang Lebaran nanti. Upaya ini dilakukan demi menjaga konsisten penurunan tren kasus Covid-19 yang sudah berlangsung setidaknya dua bulan terakhir, sekaligus mencegah adanya lonjakan kasus seperti yang dialami India dan Thailand.

Satgas mencatat, jumlah kasus aktif Covid-19 per 26 April 2021 mencapai 100.652 atau 6,1 persen. Sedangkan jumlah kasus sembuh kumulatif sebanyak 1.501.715 atau 91,2 persen dan jumlah kasus meninggal kumulatif telah mencapai 44.771 atau 2,7 persen.

Indonesia memang tidak hanya menghadapi tantangan kenaikan kasus pascalebaran. Faktanya, sejumlah negara di dunia menghadapi kenaikan kasus Covid-19.

Wiku mengatakan, globalisasi membuat negara-negara saling terkait satu sama lain sehingga penularan virus pun tak mengenal batas teritorial negara. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa mutasi virus Covid-19 yang ditemukan di negara lain dan saat ini pula juga telah ditemukan di Indonesia.

Kenaikan jumlah kasus di dunia ini juga akan berimbas pada peningkatan potensi penularan kasus antarnegara. Meskipun saat ini Indonesia justru termasuk negara dengan kondisi kasus Covid-19 yang cenderung terkendali, namun Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan baru penanganan Covid-19.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Amankah Bayi Minum ASI dari Ibu Penderita Covid 19?

Jumat, 24 September 2021 | 16:36 WIB

Mimpi Selingkuh? Simak Alasan dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 18 September 2021 | 16:46 WIB

Adab Membawa Al Quran Digital pada Ponsel ke Kamar Mandi

Jumat, 17 September 2021 | 15:38 WIB
X