Penurunan Tanah di Pantura Jawa dan Ancamannya

- Kamis, 1 April 2021 | 17:09 WIB
ilustrasi banjir rob. (istimewa)
ilustrasi banjir rob. (istimewa)

NETIZEN, AYOCIREBON.COM -- Penurunan tanah merupakan “the silent killer” yang secara pelan-pelan namun pasti merusak dan bahkan menghilangkan suatu kawasan. Hasil penelitian menunjukkan laju rata-rata penurunan tanah di dataran rendah pesisir Indonesia bervariasi mulai dari 1-25 cm/tahun.

Tingginya laju penurunan tanah dapat menghambat upaya konservasi dan rehabilitasi kawasan pesisir seperti di Pantai Utara Jawa dan berpotensi menghilangkan ekosistem gambut tropis seperti di Pantai Timur Sumatera. Ancaman bencana tersebut bahkan telah terjadi di sebagian wilayah di Indonesia dan menimbulkan dampak yang sangat besar, seperti di antaranya adalah banjir pasang laut “rob”, yang menyebabkan dampak bencana berupa kerusakan infrastruktur, perluasan area banjir, penurunan kualitas lingkungan, dan lain-lain.

Hampir di semua kasus banjir rob terjadi akibat adanya penurunan tanah pesisir, sehingga kedua fenomena tersebut saling berhubungan dan upaya mitigasinya menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Secara sosial, penurunan tanah berdampak terhadap kehilangan mata pencaharian berbasis lahan pesisir dan secara ekonomi berdampak terhadap peningkatan biaya pengelolaan lahan dan penggunaan air.

AYO BACA: Ratusan Warga Kabupaten Cirebon Terdampak Banjir
AYO BACA: Tarling, Transformasi Kesenian Rakyat Pantura 

Tercatat lebih dari 20 kota di Indonesia mengalami penurunan tanah, termasuk kota-kota besar pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Selain itu, daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan lahan gambut juga sangat rentan akan bencana Penurunan tanah seperti daerah-daerah pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti-Provinsi Riau. Hasil pemetaan indikatif menunjukkan setidaknya 21 provinsi dan 132 kabupaten/kota di Indonesia saat ini terindikasi mengalami penurunan tanah, khususnya di Kawasan pesisir, baik itu yang berada di pesisir tanah mineral ataupun pesisir tanah gambut.

Berdasarkan hasil pengukuran geodetik, geo-hidrologi, geoteknik dan lain-lain, laju penurunan tanah di kawasan pesisir non gambut dapat mencapai 1-20 sentimeter per tahun. Di beberapa tempat bahkan total penurunannya telah mencapai 5-6 meter. Sementara itu laju penurunan tanah di pesisir gambut juga sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Penelitian menyebutkan bahwa lahan gambut yang ditanami akasia akan mengalami penurunan tanah sekitar 5,2 cm/tahun pada kedalaman air tanah rata-rata 70 cm. Sementara itu, hasil penelitian terbaru diketahui bahwa setiap penurunan 1 cm muka air tanah di lahan gambut maka berpotensi melepas 0,91 ton CO2/ha/tahun.

Secara umum sebagian besar wilayah Pantai Timur Sumatera dan Pantai Utara Jawa memiliki potensi penurunan tanah pada tingkat tinggi sampai sangat tinggi. Bahkan, saat ini Ibukota Jakarta memiliki laju penurunan tanah paling tinggi di dunia. Ironisnya, bencana yang terjadi sebagai akibat dari penurunan tanah masih belum banyak mendapatkan perhatian. Namun demikian jika dicermati lebih lanjut, di beberapa lokasi, dampak penurunan tanah sangat terasa. Secara total, luasan area terdampak “rob” di Pantai Utara Jawa (Pantura) mencapai 11.400 hektare dan abrasi/erosi pantai mencapai sekitar 5.000 hektare. Diketahui bahwa Kota Pekalongan dan Demak merupakan dua kota yang mengalami banjir “rob” dengan luasan paling besar.

AYO BACA: Banjir Semakin Meluas di Pantura Indramayu 
AYO BACA: Cara Penyapu Uang di Pantura Indramayu Hidupi Diri, Tak Surut Ancaman Maut 

Luasnya lokasi terdampak di Kawasan Pantura berbanding lurus dengan potensi kerugian yang terjadi sebagai akibat dari penurunan tanah. Berdasarkan hasil perhitungan kasar yang hanya memperhitungkan biaya adaptasi perbaikan jalan, jembatan, dan permukiman, potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh “rob” di Jakarta saat ini adalah sebesar Rp25, 5 triliun, dan diperkirakan mencapai Rp56,6 triliun di tahun 2027. Nilai ini dikeluarkan setidaknya dalam waktu 5-10 tahun sekali. Di Kabupaten Demak, tercatat sebanyak 896 rumah telah terdampak “rob”. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, setiap rumah melakukan perbaikan untuk meninggikan rumah dalam waktu 5 atau 10 tahun sekali. Sehingga, total biaya yang harus dikeluarkan secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp67.2 miliar yang dikeluarkan setiap 5-10 tahun sekali. Jika kita perluas area cakupan terdampak, maka potensi kerugian ekonomi akan semakin membesar dan mencapai puluhan hingga ratusan triliun Rupiah. Sebagai catatan, nilai kerugian tersebut baru memperhitungkan ancaman “rob” saja tanpa memasukkan kerugian lainnya seperti kehilangan lahan dan mata pencaharian.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

5 Alasan Kamu Harus Berjalan Kaki dan Tips Memulainya

Selasa, 16 November 2021 | 19:17 WIB

Ini Hukum Menahan Kentut saat Salat

Senin, 8 November 2021 | 13:57 WIB
X