Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh

- Selasa, 6 Agustus 2019 | 15:39 WIB
Ade Irfan (berkacamata hitam), sang dalang lais, tengah menari dalam pertunjukan Lais sebagai salah satu kesenian khas Cirebon yang nyaris punah, serupa dengan Sintren yang dimainkan dalang perempuan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)
Ade Irfan (berkacamata hitam), sang dalang lais, tengah menari dalam pertunjukan Lais sebagai salah satu kesenian khas Cirebon yang nyaris punah, serupa dengan Sintren yang dimainkan dalang perempuan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Kurungan berukuran besar yang menyerupai kurungan ayam berbungkus kain, menjadi objek paling mencolok dalam pertunjukan kesenian tradisional Cirebon, Lais.

Ditempatkan di tengah arena pertunjukan, 'kurungan ayam' itu dikelilingi 2-3 penari dan dilatari para pemain gamelan. Di antara para penari itu, salah satunya seorang laki-laki berpakaian seadanya diikat dengan tali.

Seorang pawang dengan dupa terbakar dan jampi-jampinya membuat pemuda itu lunglai tak sadarkan diri. Laki-laki itulah 'sang' Lais, figur utama dari keseluruhan pertunjukan.

Sebagian rekannya lalu membungkus Lais atau akrab disebut pula Dalang Lais, dalam tikar anyaman, sebelum kemudian sosoknya menghilang dalam tikar. Dua penari mengelilingi kurungan ayam seraya menaburkan potongan bunga.

Tak lama, voila! Kala kurungan dibuka, tampaklah perubahan penampilan Lais. Kali ini, kedua matanya dilapisi kaca mata hitam dan ikat kepala tradisional tersemat menutup kepalanya. Sebuah selendang panjang terikat di pinggang Lais yang kini berpakaian layaknya penari.

Tubuhnya masih tetap lunglai. Sebagian penari dan pendamping membantunya berdiri tegak. Beberapa detik kemudian, tubuhnya mulai bergerak gemulai. Lais menari diiringi lagu berlirik seperti ini:

"Turun turun lais
Laise widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange Siti Maindra
Widadari temurunan
"

Dalang Lais bergerak mengelilingi penonton yang berkerumun. Tarian si penari akan terhenti setiap kali salah satu penonton melempar uang mengenai bagian tubuhnya. Bukan hanya saja tariannya berhenti, Lais justru pingsan setiap terkena lemparan uang berapapun nilainya.

"Uang itu mewakili godaan duniawi, di antaranya harta, tahta, dan wanita, yang akan membelenggu manusia. Ketika godaan itu mengenai kita, kita akan berada dalam kegelapan sehingga kita harus berupaya melepaskan diri dari belenggu," papar seniman Cirebon, Waryo Sela kepada ayocirebon.com.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

5 Alasan Kamu Harus Berjalan Kaki dan Tips Memulainya

Selasa, 16 November 2021 | 19:17 WIB

Ini Hukum Menahan Kentut saat Salat

Senin, 8 November 2021 | 13:57 WIB
X