Hati - hati, Disfungsi Ereksi bisa jadi Gejala Depresi pada Pria lho

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 18:10 WIB
Di tengah stigma sosial dan budaya, gejala depresi pada pria kerap tak dikenali. (Unsplash/Ben White)
Di tengah stigma sosial dan budaya, gejala depresi pada pria kerap tak dikenali. (Unsplash/Ben White)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM- Disfungsi ereksi menjadi salah satu gejala depresi pada pria. Di tengah stigma budaya "kejantanan" yang cenderung melahirkan keengganan, pria bahkan nyaris tak mengenali gejala depresi yang berpotensi pada perusakan diri.

Berdasarkan data CDC yang disarikan dari healthline.com, perempuan mengalami depresi pada tingkat yang lebih tinggi dibanding pria. Namun, tak menutup kemungkinan data itu kurang mewakili para pria sebab faktor sosial dan biologis yang membuatnya lebih sulit mengenali maupun mendiagnosis gejala depresi pada pria.

Budaya juga bisa jadi turut mempengaruhi di mana pria "bertindak jantan" sehingga cenderung menyembunyikan emosinya. Karenanya, gejala depresi pada pria umumnya berbeda dan tak jarang lebih sulit diidentifikasi.

Namun begitu, ada beberapa gejala depresi pada pria yang bisa diamati secara fisik :

  • sesak dada
  • sakit kepala
  • nyeri
  • jantung berdebar - debar
  • problem pencernaan, seperti diare, gas, hingga sembelit
  • penurunan berat badan di luar keinginan, bahkan tak jarang penambahan berat badan
  • disfungsi ereksi dan masalah sosial lain
  • masalah hormonal seperti testosteron yang rendah

Gangguan kesehatan fisik di atas sebenarnya merupakan manifestasi dari gejala depresi pada pria, di mana depresi dianggap sebagai gangguan kesehatan mental.

Secara mental, gejala depresi pada pria pun dapat diamati. Meski gejalanya bisa jadi berbeda pada setiap pria, dampak gejala mental berisiko menganggu cara berpikir dan memproses informasi, hingga mempengaruhi perilaku dan emosi pria.

Berikut beberapa gejala depresi pada pria secara mental :

  • sulit konsentrasi
  • masalah memori atau ingatan
  • gangguan tidur, umumnya sulit tidur atau terus tertidur
  • pola pikir obsesif - kompulsif
  • pikiran bunuh diri

Selain fisik maupun mental, gejala depresi pada pria juga dapat diamati melalui kondisi emosinya.

Depresi tak melulu membuat seseorang menampakkan wajah sedih. Kesedihan, bagi yang mengalami depresi, hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan emosi yang dapat disebabkan depresi.

Tak hanya kesedihan lho, gejala depresi pada pria secara emosional bisa dilihat dari sejumlah
kondisi berikut :

  • agitasi
  • agresi
  • amarah
  • gelisah
  • penarikan emosional dari teman, keluarga, maupun rekan kerja
  • keputusasaan
  • kurang minat terhadap keluarga, komunitas, hobi, dan pekerjaan
  • libido kurang / turun

Kondisi di mana gejala depresi pada pria, baik secara fisik, mental, maupun emosional, pada gilirannya dapat mempengaruhi perilaku.

Perilaku gejala depresi pada pria kerapkali muncul sebagai akibat dari keengganan atau penolakan pria untuk mendiskusikan emosi mereka. Karenanya, perilaku menjadi gejala depresi paling jelas bagi orang lain.

Perilaku yang menampakkan gejala depresi pada pria umumnya meliputi :

  • kesulitan memenuhi tanggung jawab pekerjaan, keluarga, maupun tanggung jawab pribadi lainnya
  • penyalahgunaan narkoba
  • mengonsumsi minuman beralkohol, bahkan secara berlebihan
  • terlibat dalam kegiatan beresiko, seperti mengemudi secara serampangan atau melakukan hubungan
    seksual di luar pasangannya tanpa kondom
  • mengisolasi diri secara sosial
  • percobaan bunuh diri

Segala hal di sekitar sebenarnya berpotensi menimbulkan gejala depresi pada pria. Namun, stigma budaya dan sosial yang melingkupi pria, membuat gejala itu tak terdeteksi.

Pria pada kebanyakan budaya seolah terikat pada "ketentuan tidak tertulis" untuk untuk menahan emosi. Faktanya, kebiasaan itu tidaklah sehat bagi pria.

Di tengah norma - norma sosial akhirnya banyak pria tidak pernah diajari untuk mengenali tanda - tanda depresi. Akibatnya, beberapa di antara mereka tak pernah mencari bantuan untuk membantu menangani depresi yang dialami.

Sementara, beberapa pria lain mungkin enggan berdiskusi dengan orang lain atas masalahnya sebab mencemaskan penilaian orang lain.

Alih - alih mengatasi depresi, banyak pria yang akhirnya memilih bekerja berjam - jam atau berkegiatan lain agar tetap sibuk.

Bila gejala depresi pada pria tak ditangani, perusakan diri akan menjadi hasil yang dituai. Mendiagnosis dan mengatasi depresi sejatinya merupakan upaya penyelamatan nyawa.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangu dampak gejala depresi pada pria antara lain terapi bicara, obat - obatan, atau gabungan keduanya. Dalam hal ini seorang profesional kesehatan dapat membantu membuat rencana perawatan pribadi yang tepat.

Terapis mungkin akan menyarankan jenis perawatan tertentu, seperti terapi perilaku kognitif, terapi antar pribadi, terapi pemecahan masalah, maupun terapi psikodinamik. Bila diperlukan, obat mungkin akan ditambahkan.

Pria disarankan menemui konselor kesehatan mental bila mengalami satu atau lebih gejala depresi di atas hingga menganggu kehidupan sehari - hari.***

Halaman:

Editor: Erika Lia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Alasan Kucing Menjilati Kamu, Bikin Hati Meleleh

Jumat, 22 Oktober 2021 | 15:23 WIB

Beberapa Hal yang Mungkin Terjadi Tanpa Media Sosial

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:19 WIB

Amankah Bayi Minum ASI dari Ibu Penderita Covid 19?

Jumat, 24 September 2021 | 16:36 WIB

Mimpi Selingkuh? Simak Alasan dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 18 September 2021 | 16:46 WIB
X