Wakare, Antara Tradisi dan Unjukrasa Kampung Wates

- Jumat, 16 Agustus 2019 | 18:28 WIB
Warga mengikuti prosesi Wakare di Kampung Wates, Desa Jatisura, Majalengka, Jawa Barat, Jumat (16/8/2019). Prosesi ini mempresentasikan peristiwa bersejarah warga Kampung Wates yang memperjuangkan hak atas tanah yang ditinggal mereka saat perang kemerdekaan melawan Jepang tahun 1942. (Kavin Faza/Ayobandung.com)
Warga mengikuti prosesi Wakare di Kampung Wates, Desa Jatisura, Majalengka, Jawa Barat, Jumat (16/8/2019). Prosesi ini mempresentasikan peristiwa bersejarah warga Kampung Wates yang memperjuangkan hak atas tanah yang ditinggal mereka saat perang kemerdekaan melawan Jepang tahun 1942. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Sebuah peristiwa di Kampung Wates, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, diperingati setiap tahun. Diakrabi dengan sebutan Gotong Rumah (Wakare), tradisi ini juga sebagai unjukrasa sekaligus penegasan.

Sebuah bangunan berbentuk rumah berupa bilah-bilah bambu dan beratap rumbia menjadi salah satu benda yang menyedot atensi, Jumat (16/8/2019) siang. Di beberapa sisinya, bilah-bilah bambu utuh menonjol keluar.

Beberapa orang meletakkan bilah-bilah bambu utuh menonjol itu ke bahu masing-masing, sebelum kemudian mulai melangkah menyusuri jalan. Di depan mereka, sejumlah orang menggembala kambing, sedangkan di belakang bangunan rumah yang ditandu itu berjalan mengikuti orang-orang berjumlah lebih banyak yang di antaranya membawa hasil bumi.

Sebuah lagu mengalun mengiringi arak-arakan Wakare. Mereka menyusuri Jalan Lanud Sukani yang berada di kampung itu sepanjang sekitar satu kilometer, dan kembali ke titik keberangkatan.

Arak-arakan didahului aksi teatrikal penjajahan tentara Jepang yang mengusir penduduk pribumi yang tengah berladang. Warga kemudian berbondong-bondong bergerak pindah.

Tradisi Wakare merupakan peringatan peristiwa perpindahan warga Kampung Wates ke Kampung Peusing yang berjarak sekitar tiga kilometer. Mobilisasi massa yang terjadi pada 1942 itu dilatari ketakutan warga setempat atas keberadaan pangkalan udara militer yang dibangun pemerintah Belanda, sebelum kemudian diwarisi Jepang pada masa kolonialisme.

AYO BACA : HUT RI, DPRD Jabar Ajak Masyarakat Perkokoh Persatuan

"Kampung Wates sudah ada sejak 5 Mei 1902. Dulu warga sini pindah karena takut dengan adanya pangkalan udara militer, takut ada peluru nyasar atau pesawat jatuh," beber salah satu tokoh masyarakat Kampung Wates, Daum Solihin (51).

Istri Daum, Eha Julaeha (47), telah turun temurun menjadi warga Kampung Wates. Istilah wakare sendiri, menurut warga setempat berarti selamat jalan/perpisahan yang berasal dari bahasa Jepang.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Ciayumajakuning Berpotensi Kembali Hujan Hari ini

Sabtu, 20 November 2021 | 08:40 WIB

Rencana Pemadaman Listrik Indramayu, 20 November 2021

Sabtu, 20 November 2021 | 06:16 WIB

BMKG Memperkirakan Ciayumajakuning Hujan

Jumat, 19 November 2021 | 09:45 WIB

Info SIM Keliling Indramayu, 19 November 2021

Jumat, 19 November 2021 | 07:33 WIB

Cek Lokasi Samsat Keliling Indramayu, 19 November 2021

Jumat, 19 November 2021 | 07:07 WIB

Jadwal Pemadaman Listrik Kuningan, 18 November 2021

Kamis, 18 November 2021 | 10:02 WIB

Cek Jadwal Samsat Keliling Cirebon, 18 November 2021

Kamis, 18 November 2021 | 07:16 WIB

Jadwal Samsat Keliling Majalengka, 18 November 2021

Kamis, 18 November 2021 | 07:10 WIB
X